Aplikasi Tiktok dan Terjajahnya Mentalitas Kebudayaan


Aplikasi Tiktok dan Terjajahnya Mentalitas Kebudayaan - Akhir-akhir ini aplikasi Tik Tok menjadi sebuah aplikasi yang berkembang sangat pesat di Indonesia dan bahkan penggunaan Indonesia sangat viral di mana orang-orang menggunakan platform tersebut untuk berkreatifitas  membuat video singkat. Hal ini menarik, karena sebelumnya tiktok juga sudah menjadi trend di Indonesia dimana seperti yang kita tahu pada tahun sebelumnya  aplikasi tersebut diidentikan sebagai aplikasi yang hanya digunakan untuk orang-orang alay atau orang-orang yang bisa dibilang cringe  oleh sebagian besar golongan.  Hal ini  menurut sudut pandang saya  pribadi,  bahwa orang Indonesia bisa dikatakan terjajah oleh sebuah mentalitas kebudayaan.

Di belahan bumi lain yaitu Amerika Serikat, aplikasi ini menjadi viral dan bahkan sudah  terdownload dari lebih dari 80 juta. Hal tersebut mengindikasikan bagaimana perkembangan Tik-tok yang sangat pesat di negara adidaya tersebut.  Hal ini aneh karena beberapa  bulan sebelumnya  di Indonesia Aplikasi ini seperti yang kita tahu sangat dihindari bahkan sebagian besar orang gengsi untuk menginstal aplikasi tersebut.  Tapi setelah di Amerika Serikat (banyak orang-orang bule atau luar) yang menggunakan aplikasi tersebut, di Indonesia aplikasi ini tidak lagi identik dengan orang-orang alay atau cringe malahan  menjadi aplikasi yang disenangi atau dianggap keren oleh berbagai kalangan.

Hal Inilah yang saya katakan bahwa  orang-orang Indonesia terjajah mentalitas kebudayaannya.  Mentalitas kebudayaan kita bertumpu atau berkiblat pada budaya orang luar khususnya barat.  Rasanya menjadi sebuah kebanggaan atau bisa dibilang keren ketika budaya itu telah diakui oleh negara-negara barat.  Seperti yang kita tahu sebelumnya ada kasus seperti Bowo dan juga beberapa tiktok yang disebut dengan muser sering di bully atau di cap alay  karena menggunakan aplikasi tersebut.

Menurut kalian bagaimana dengan pendapat diatas dan apakah kalian juga menemukan kasus dengan pola yang sama seperti kasus tiktok di atas?