Push Parenting, Keegoisan Orang Tua Terhadap Anak Mereka

 


Push Parenting, Keegoisan Orang Tua Terhadap Anak Mereka - Setiap manusia di dunia pasti memiliki keunikan, kelebihan, dan kelemahannya masing-masing. Sejak kecil, kebanyakan dari mereka sudah memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda. Potensi yang ada di dalam diri mereka dapat digali dan dikembangkan dengan baik, sehingga dapat menjadi sebuah kemampuan yang dimiliki olehnya.

Sebuah perkembangan tentu harus disertai sebuah dukungan, baik lingkungan maupun orang di sekitar. salah satunya adalah orang tua. Orang tua merupakan pendukung paling berpengaruh di dalam kehidupan setiap anak karena orang tua jugalah yang menjadi fasilitator dari terwujudnya minat dan bakat anak. Akan tetapi, masih banyak diantara mereka yang masih tidak peduli akan minat dan bakat yang dimiliki oleh anaknya sehingga orang tua selalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan apa yang diinginkan oleh anak mereka. Hal inilah yang disebut Push Parenting.


Apa Itu Push Parenting?

Push parenting merupakan pola asuh yang lebih menekankan hak anak atas nama orang tua, orang tua selalu menetapkan target, tuntutan, serta standar yang harus dicapai oleh anak mereka yang mungkin tidak sesuai dengan kemampuan fisik dan psikologis anak. Mereka cenderung berpikir apa yang mereka tuntut merupakan hal yang terbaik untuk anak mereka tanpa memperdulikan apa yang dimau oleh sang anak.

Orang tua yang selalu menekan dan menuntut anak membuat anak selalu merasa 'terpaksa' dalam melakukan segala kegiatan, sehingga hal ini dapat membuat anak lebih mudah marah, memberontak, sulit diatur, stress, hingga mengalami depresi. 


Apa Penyebab Terbentuknya Push Parenting?

1. Para orang tua cenderung khawatir dan takut akan masa depan para anak secara berlebihan. 

Para orang tua takut bahwa nasib anak mereka akan sama dengan nasib mereka saat ini. Mereka juga takut anaknya akan dijengkal dan direndahkan oleh orang lain.

2. Adanya keinginan yang belum dicapai oleh para orang tua. Para orang tua menuntut anaknya agar lebih berhasil dari mereka. Seperti halnya seorang ayah yang menjadi buruh pabrik ingin anaknya menjadi direktur agar lebih sukses darinya.

3. Ekspetasi bahwa anak akan sukses. 

Banyak orang tua yang senang membandingkan anaknya dengan anak lain sebagai caranya memotivasi anak. Seperti "Lihat dong si A! Dia dapat nilai 100 masa kamu dapat 90!" "Dasar bodoh! Makanya belajar jangan main terus". Hal ini jugalah yang membuat para orang tua akan selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai oleh para anak. Sehingga anak akan lebih tertekan dan ambisius karena ingin membuktikan bahwa dia bisa tanpa memikirkan resiko yang didapatkan nantinya. Misalnya karena A ingin mendapatkan nilai yang sempurna seperti B, maka A pun mencontek agar bisa mendapatkan nilai 100.


Apakah Ada Dampak dari Tuntutan Terhadap Anak?

Push parenting ini termasuk kategori authoritarian karena orang tua akan mendukung anaknya jika keinginan anak sama dengan keinginan mereka. Pada push parenting anak-anak tidak diberikan kebebasan untuk berpendapat, bertindak, dan mencapai cita-cita sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Tuntutan yang diberikan oleh para orang tua membuat para anak selalu merasa takut, cemas, panik bahkan merasa putus asa jika apa yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan keinginan orang tua mereka. 

Push parenting juga dapat berdampak terhadap kesehatan mental dan fisik anak. Para anak akan mudah stress, sehingga berdampak terhadap kesehatan fisik mereka yang mudah sakit dan berperilaku kurang normal. Tekanan dari para orang tua dapat membuat para anak juga memilih untuk memberontak dan keras kepala demi apa yang mereka inginkan.

Akan tetapi, setiap orang yang melakukan push parenting pasti memiliki alasan di baliknya. Banyak orang tua yang takut anaknya bernasib sama seperti mereka saat ini. Orang tua juga takut akan masa depan anak yang suram. Oleh sebab itulah, banyak orang tua yang melakukan push parenting demi masa depan dan ingin yang terbaik untuk anaknya.

Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan tidak akan berjalan dengan mulus. Kenapa? Karena kita menjalaninnya diiringi rasa beban dan tidak bisa menikmati hidup dengan baik. Terima kasih.

Referensi: 

[1]Jurnal 

N.N. "ANAK KORBAN ORANG TUA AMBISIUS (PUSH PARENTING) DAN KONSELING TERHADAPNYA". Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, veritas 7/2 (Oktober 2006) 283-299.

[2]Artikel

Mustika, Rima. "Push Parenting, Gaya Pengasuhan Atas Keinginan Orang Tua". Diakses dari https;//www,golife,id/push-parenting/. Pada 25 Oktober 2021.

[3]Fazrina, Fauziah Nur. 2019. "Ini maksud 'push parenting' dan dampaknya terhadap anak". Diakses dari https;//m,brilio,net/creator/ini-maksud-push-parenting-dan-dampaknya-terhadap-anak-32a972, html