Ibu Rumah Tangga, Beban Keluarga?

 


Ibu Rumah Tangga, Beban Keluarga? - "Pekerjaan istrimu apa, Patricio?"

"Di rumah aja, Kak. Ngurus rumah, sama momong dedek baby."

"Wah, enak sekali ya punya suami kaya kamu. Istrinya dimanjain gitu, udah kaya ratu aja bisa santai di rumah nggak ngerjain apa-apa."

Kira-kira demikian, sedikit gambaran tentang apa yang akan diperdebatkan oleh sebagian orang julid, terkait seorang wanita yang telah menyandang gelar seorang istri dan juga seorang ibu. Akan tetapi, ia tidak bekerja secara formal dan tidak menghasilkan uang. Hanya memposisikan diri sebagai ibu rumah tangga yang mengurus segala hal di dalam rumah tangganya, dan tentu saja mengurus segala keperluan suami dan juga anak-anaknya.

Lantas, benarkah ibu rumah tangga itu hanyalah beban keluarga? Dan layak diidentik-kan dengan hidup enak karena tidak perlu susah-susah bekerja, tinggal diam saja di rumah dan menunggu nafkah dari suami? 

Mari renungkan wahai, Murtado. Seorang istri yang tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga, dan dia tidak memiliki asisten rumah tangga, itu sangatlah berat.

Bayangkan saja bagaimana ia harus bangun lebih awal di pagi hari daripada yang lain hanya untuk menyiapkan sebuah sarapan. Bayangkan lagi bagaimana ia harus membersihkan seisi rumah yang setiap hari harus dibersihkan agar jauh dari potensi menjadi sarang bibit penyakit. Bayangkan juga bagaimana ia harus selalu mencuci semua pakaian kotor dari semua anggota keluarganya. Pun menyiapkan makanan, memantau selalu tumbuh kembang anak agar selalu terjaga, bahkan menjadi sebuah tempat berkeluh kesah bagi semua anggota keluarganya, kala memiliki masalahnya masing-masing. Itu semua adalah pekerjaan yang amat sangatlah menguras energi fisik maupun batin, wahai Murtado!

Belum lagi setiap hari harus selalu menyajikan wajah yang ramah nan cerah ceria demi menyambut semua anggota keluarga pulang ke rumah, agar semuanya dapat melepaskan penatnya masing-masing. Itu capek hei, Murtado! Capek ....

Tolonglah, jangan lagi sebut ibu rumah tangga itu tidak bekerja. Apalagi sampai hati menyebut mereka hidup santai tidak melakukan hal produktif apa pun. Itu jahat, wahai Murtado ... jahat sekali! 

Ibu rumah tangga, mereka itu semuanya bekerja, membanting tulang, bahkan memeras keringat juga. Hanya saja, pekerjaan mereka ini tidak menghasilkan imbalan nominal uang, mereka hanyalah mengharapkan rida Tuhan-nya saja, lewat rida dari suaminya. Tolonglah, hargai mereka semua para pejuang-pejuang keluarga---Sang Ibu Rumah Tangga. Jangan kecilkan hati mereka, berikan pujian dan juga rasa hormat atas apa yang mereka telah lakukan dengan sepenuh hati kepada keluarganya.

I love you, Mamah.

Spread much love, and not to hate. 

(Love selapangan bola kecamatan)