Bagaimana Bisa Daendels Membangun Jalan Raya Sejauh 1000 KM Hanya Dalam Waktu Satu Tahun?


Mungkin masih ada yang bertanya kenapa Herman William Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 berhasil menyelesaikan jalan dari ujung pulau jawa ke ujung pulau jawa hanya dalam waktu satu tahun. padahal di masa kini membangun toll butuh waktu lama. Sejak kemerdekaan hingga reformasi saja, toll hanya ada di pulau Jawa. Tangan besi Daendles lah yang menjadi jawaban keberhasilan tersebut.

Selama masa Perang Napoleon, Hindia Belanda yang secara tak langsung merupakan milik Prancis, harus berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan dari invasi Inggris. Dengan begitu, maka sebuah jalan raya super harus dibangun sepanjang Pulau Jawa guna jalur logistik dan mobilisasi tentara. Rencana pembangun proyek besar tersebut akhirnya terlaksana dalam "Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan". Proses pembangunan dilimpahkan terhadap tokoh-tokoh lokal pribumi di 23 titik pembuatan jalan (Anjer-Banten-Tangerang-Batavia-Meester Cornelis-Buitenzorg-Ciandjoer-Bandoeng-Soemedang-Cheribon-Tagal-Pacoalongan-Candaal-Samarang-Damak-Rembang-Lassum-Toeban-Grissee-Soerabaja-Pasoeroean-Probollinggo-Panaroecan), dimana setiap tokoh lokal diberi ultimatum selama 1 tahun untuk menyelesaikan jalan dari titik tempat mereka berada hingga ke titik selanjutnya (jadinya tokoh lokal di Anjer akan diberi tanggung jawab selama 1 tahun untuk membangun jalan dari Anjer hingga Banten, dan tokoh lokal Banten akan membuat jalan dari Banten ke Tanggerang, begitu seterusnya), dan hal itu dilakukan secara serentak selama 1 tahun penuh. Lalu jika ultimatum tersebut gagal dipenuhi, maka pemerintah kolonial Hindia Belanda akan menjatuhkan hukuman terhadap tokoh lokal dan para pekerjanya. Apa hukuman yang mereka dapatkan? Mati.

Hukuman mati akan diterima bagi para tokoh lokal beserta pekerjanya yang gagal menyelesaikan target mereka. Suatu sumber menyebutkan bahwa para pekerja akan dihabisi dan kepala mereka dipajang pada pucuk pepohonan disepanjang jalan, sedangkan tokoh lokalnya digantung pada alun-alun kota. Selain pembangunan jalan memakan biaya penuh dari hasil SDA milik Nusantara, ribuan pekerja pribumi meninggal dunia akibat kelaparan dan wabah penyakit, hingga kecelakaan akibat minimnya perhatian terhadap kondisi pekerja