Akan Ada Selalu Celah dalam Sebuah Kebaikan

 


Akan Ada Selalu Celah dalam Sebuah Kebaikan - Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang celah di balik sebuah kebaikan. Pernah diceramahi atau dinasihati oleh seseorang? Bagaimana rasanya? Senang atau tidak?

"Salat itu layaknya pondasi rumah. Ketika rumah pondasinya tidak kuat, maka rumah tersebut tak akan bertahan lama; roboh. Seperti itulah juga dengan kehidupan, ketika kamu sebagai umat muslim tidak melaksanakan salat, maka hidupmu tak akan tenang, rasa keputusasaan pasti menghantuimu," ucap seorang pemuda menasehati temannya. 

"B*c*t lu! Kalau lu mau pergi salat, pergi aja sono, gak usah ngajakin gue. Kayak paling bener aja! Emang hidup lu selalu tenang? Nggak, 'kan? Hidup itu gak akan selalu tenang karena sudah menjadi hukum alam, B*d**!"

Di balik dialog singkat di atas, sudah jelas menampakkan bahwa tak selamanya niat baik dianggap baik pula. Nasihat itu layaknya warna abu-abu; samar. Nasihat terbentuk ketika adanya celah dalam bentuk kesalahan. Nasihat  bertujuan meluruskan suatu hal yang belok. Akan tetapi, tak semua orang yang dinasihati mau menerima sebuah nasihat, bukan?

Hidup seseorang memang tak selamanya  berada di jalan yang benar. Terkadang, diri kita sendiri pun tak dapat menyadarinya, orang lain yang baru dapat menyadarkan kita. Terima atau tidak diterimanya sebuah nasihat, itu akan tetap masuk di telinga kita dan menjadi renungan untuk ke depannya. Sebuah nasehat dan kritik memang tak selamanya mudah untuk diterima, sebab ketika ada orang yang membahas kekurangan, kesalahan, atau bahkan mencampuri urusan pribadi kita itu cukup meresahkan. Begitu juga jika ada seseorang yang tampak condong dibanding dengan yang lain, ia akan tampak menjadi orang sok-sok'an.

Seperti yang sering kita lihat di sekitar kita, ada banyak orang yang ketika dinasihati akan menunjukkan reaksi tidak terima; memberontak. Dinasehati malah mengatai yang menasehati sok suci, sok benar, dan sok sebagainya, padahal sudah jelas dirinya salah. Seperti itulah, kritik itu tidaklah mudah untuk diterima. Bahkan, kita yang tak menunjukkan reaksi apa pun, hanya mengucapkan terima kasih saat diberi nasihat juga perlu dipertanyakan, apakah dengan hati yang ikhlas atau tidak.

Saya pribadi pun pernah merasa tak senang kepada orang yang mengkritik saya. Saya mengucapkan terima kasih, tetapi diam-diam hati saya tersakiti. Dulu, awal saya mengenal dunia literasi, ikut kelas menulis online, tulisan saya itu banyak kekurangannya. Saya juga termasuk orang yang cukup pemalas, kadang terlambat mengumpulkan tugas. Ketika seseorang memberikan kritik dan saran mengenai tulisan saya, sebenarnya saya agak jengkel kepada mereka. Kenapa selalu ada celah, tak bisakah sempurna? 

Kakak-kakak pengurus kelas menulis tersebut sering kali mengucapkan, jika terlambat mengumpulkan tugas akan diberi hukuman. Namun, saya tak semudah itu percaya, kelas menulis online hukumannya memangnya benar-benar ada? Jikalau ada, seperti apa? "Gak apa-apa gak tepat waktu, yang penting mengerjakan tugas." Inilah kalimat yang menjadi prinsip saya kala itu. Ya, sampai kelas menulis itu usai memang tak ada hukumannya, saya benar. Namun, ada hal yang cukup membuat saya sakit hati, ternyata teruntuk yang selalu tepat waktu mengerjakan tugas namanya akan dicalonkan sebagai calon moderator dalam grup yang mendirikan kelas menulis tersebut. Duh, nama saya jelas tidak ada, xixixi. Pemilihan calon moderatornya juga diadakan besar-besaran, layaknya pemilihan presiden, di-voting, bikin iri saja.

Itu saya yang dulu, sekarang beda lagi. Walaupun saya tak pandai sangat, tapi ilmu yang diberikan kala itu cukup menyerap di otak saya dan jelas sangat bermanfaat. Saya memang tak pandai membuat dongeng pengantar tidur, cerita fiksi tentang mas-mas CEO, mafia, dan psik*p*t. Namun, setidaknya sekarang opini saya sudah bisa tersalurkan dalam bentuk tulisan. Orang-orang yang dulu sempat membuat saya jengkel karena suka mengkritik tulisan saya, sekarang tidak lagi. Malah mereka menjadi terspesialkan di hati saya. Saya juga yang dulunya tidak terlalu suka diberi krisan, sekarang jadi suka memberi krisan kepada orang lain. Namanya ilmu kalau tidak dibagi kurang nikmat, ya, 'kan? Pola pikirnya saya pun sudah berubah, ketika seseorang memberikan krisan kepada saya, saya akan sangat senang karena itu sungguh bermanfaat untuk perkembangan saya ke depannya. Dari pengalaman sebelumnya, saya jelas tahu bahwa ada juga orang yang pemikirannya sama seperti saya kala itu saat diberi krisan.

Intinya, tebarlah selalu kebaikan dalam hidup ini, walaupun orang yang kita tuju malah berpikir sebaliknya. Semua butuh waktu untuk dicerna dengan baik, termasuk sebuah nasihat. Mungkin saat ini tak diterima, tapi tidak tahu ke depannya, bisa saja kita menjadi orang yang cukup berkesan dan berjasa dalam hidupnya.