Dampak Corona (Covid-19) Terhadap Perekonomian di Indonesia



Dampak Corona (Covid-19) Terhadap Perekonomian di Indonesia - Dampak buruk dari penyebaran virus Corona (Covid-19) yang berasal dari Wuhan, Tiongkok[1] tak hanya membuat negara-negara di dunia waspada akan warga negaranya terjangkit virus tersebut. Tetapi juga kita harus mewaspadai dampaknya terhadap perekonomian. Menyikapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam rapat terbatas mengambil keputusan untuk menghentikan penerbangan dari dan ke Tiongkok per 5 Februari 2020. Pemerintah Tiongkok pun melakukan tindakan memulangkan 5.000-an warga negaranya yang tertahan di Bali. Berdasarkan data Coronavirus Resource Center dari Johns Hopkins University (JHU) pada 14 Maret 2019 pukul 20:33, terdapat 147.838 kasus di seluruh dunia dengan 5.539 orang meninggal dunia, 80.976 kasus di Tiongkok dengan 3.075 orang meninggal dunia, dan 96 kasus di Indonesia dengan 5 orang meninggal dunia. Setelah World Health Organization (WHO) menetapkan virus Corona (Covid-19) sebagai pandemi, setiap negara fokus pada penanganan virus ini dan perekonomian diproyeksikan akan mengalami penurunan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, Tiongkok merupakan negara asal kedua setelah Malaysia dengan wisatawan mancanegara terbanyak yang datang ke Indonesia. Bulan Januari dan Februari biasanya menjadi bulan tertinggi kunjungan wisatawan asal Tiongkok mengunjungi Bali dan Manado karena bertepatan dengan libur tahun baru Imlek. Dampak dari adanya virus Corona (Covid-19), sektor pariwisata terganggu dan mengalami perununan. Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani, tingkat okupansi hotel di Manado dan Bali periode Januari-Februari 2020 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode Januari-Februari 2019 lalu. Di Manado mengalami penurunan sebesar 30–40%, biasanya sebesar 70%. Begitupun Bali mengalami penurunan sebesar 40%, biasanya 60-70%. Jika kita asumsikan bahwa terdapat ±3.000 wisatawan Tiongkok ke Bali per hari dengan rata-rata pengeluaran sebesar US$ 1.100, maka dalam waktu 2 bulan potensi kerugian yang diderita oleh sektor pariwisata Indonesia ialah mencapai US$ 198 juta.

Selain sektor pariwisata, neraca perdagangan Indonesia pun mengalami guncangan. Walaupun Indonesia merupakan mitra dagang strategis Tiongkok, namun dari sisi perdagangan Indonesia selalu mengalami defisit dengan ditunjukkannya nilai impor Indonesia yang selalu lebih besar dibanding Tiongkok. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), pada tahun 2019 sudah ada defisit neraca dagang sebesar US$ 16,98 miliar, nilai tersebut sudah mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar US$ 18,40 miliar. Terdapat sebuah fakta yang sangat disayangkan, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dari sisi peranan terhadap total impor nonmigas Januari-November 2019, Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar dengan peran 29,68% (US$ 40.507,0 juta). Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap produk impor bahan baku atau bahan penolongpun sangat besar mencapai 73,93%. Terlebih, hampir 20% yaitu 19,7% PDB Indonesia berasal dari sektor industri.

Sejak mengalami perlambatan ekonomi di tahun 2019, walaupun Tiongkok menempati peringkat kedua ekonomi terbesar setelah Amerika Serikat, namun pertumbuhan Tiongkok merupakan yang paling tinggi. Tiongkok menyumbang hampir 30% pertumbuhan ekonomi global dan 16% PDB global. Indonesia sebagai mitra strategis dagang Tiongkok otomatis rentan akan terkena imbasnya. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), hal ini sangat mungkin terjadi karena Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor non migas pertama Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 16,68% dari total US$ 154,99 miliar. Tiongkok menempati urutan pertama sebesar US$ 25,85 miliar, Amerika Serikat US$ 17,68 miliar, Jepang US$ 13,75 miliar, India US$ 11,66 miliar, dan Singapura US$ 9,07 miliar.

Dampak lain akibat penyebaran virus Corona (Covid-19) ialah berhentinya pengiriman impor bawang putih dari Tiongkok ke Indonesia. Tiongkok merupakan importir terbesar bawang putih ke Indonesia. Kekhawatiran akan langkanya bawang putih membuat harganya melonjak mencapai Rp 80.000 per kilogram. Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian akan mengalihkan importasi bawang putih dari Tiongkok dan membuka keran impor bawang putih dari India dan Thailand. Selain itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto sudahmenerbitkan izin impor bawang putih sebanyak 25 ribu ton. Selain itu, Indonesia harus segera mencari barang substitusi untuk bahan baku atau mencari pasar baru agar mampu memproduksi barang jadi dan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, jika tidak maka defisit neraca perdagangan bukan tidak mungkin akan semakin melebar. Terlebih rupiah mengalami fluktuasi setiap harinya dan mulai melemah sejak Februari 2020 ke posisi Rp 14.320/US$ dan 12 Maret 2020 mencapai posisi Rp 14.862/US$. Rantai pasokan bahan baku industri manufaktur Indonesia mulai menipis lantaran banyak pabrik di Tiongkok yang masih belum berproduksi, atau jika sudah berproduksi kapasitasnyapun tidak optimal karena produsen melakukan efisiensi, dan pelabuhan yang belum sepenuhnya beroperasi menyebabkan arus barang terhambat, sehingga terjadi penurunan daya beli masyarakat, dan meningkatkan harga barang-barang impor.

Pada tahun 2018 total penanaman modal asing (PMA) ialah sebesar US$ 28 miliar. Investasi Tiongkok sebesar 8,4% (US$ 2,37 miliar) dengan 1.562 proyek dan Jepang sebesar 17,4% (US$ 4,95 miliar) dengan 3.166 proyek. Lalu tahun 2019, Tiongkok berhasil menyalip Jepang dengan nilai invetasi 2,5 kali lebih besar dari tahun sebelumnya sebagai negara yang paling banyak menanamkan uangnya di Indonesia. Berdasarkan data Peringkat Realisasi Investasi Penaman Modal Asing di Indonesi pada tahun 2019 menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Total PMA Indonesia ialah sebesar US$ 27 miliar, dengan investasi Singapura sebesar 23,9% (US$ 6,59 miliar), 7.026 proyek dengan investasi terbesar di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran. Tiongkok sebesar 17,2% (US$ 4,74 miliar), 2.135 proyek dengan investasi terbesar di sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi. Jepang sebesar 15,6% (US$ 4,31 miliar),  3.840 proyek dengan investasi terbesar di sektor listrik, gas, dan air. Hongkong sebesar 10,4% (US$ 2,89 miliar), 1.512 proyek dengan investasi terbesar di sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi. Belanda sebesar 9,4% (US$ 2,59 miliar), 1.347 proyek dengan investasi terbesar di sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin bahwa proyek-proyek tersebut dapat mengalami keterlambatan.

Berdasarkan kajian dari Bank Dunia atau World Bank, setiap perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 1%, akan membuat ekonomi Indonesia melambat 0,3%. Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal I sebesar 6,82%, kita asumsikan data tersebut sebagai informasi dasar. Jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal I-2020 diproyeksikan 3,5% seperti yang dikatakan oleh Reuters, maka akan ada penurunan sebesar 3,32%. Dalam 5 tahun terakhir, median pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I sebesar 5,01%, kita asumsikan data tersebut sebagai informasi dasar juga. Alhasil jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok berkurang 3,32%, maka dampaknya ke Indonesia ialah penurunan sebesar 0,99% atau 1%. Artinya, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diproyeksikan sebesar 5%, maka pada kuartal I-2020 bisa mengalami penurunan sampai dibawah 4,5% yaitu sebesar 4,1%. Angka tersebut merupakan angka terburuk dibandingkan dengan tahun 2009 setelah krisis ekonomi global sebesar 4,5%.

Menurut saya, seluruh otoritas harus terus memantau secara intensif dampak dari penyebaran virus Corona (Covid-19) terhadap perekonomian nasional. Koordinasi yang dijalin oleh Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berjalan dengan sejumlah instrumen yang disiapkan agar tidak mempengaruhi fundamental ekonomi. Pemerintah diharapkan melakukan berbagai stimulus agar industri terus bergerak dan masyarakat dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah agar terhindar dari penyebaran virus Corona (Covid-19).

[1] Berdasarkan Keppres No.12/2014 tentang penggunaan kata Tiongkok untuk menggantikan kata Cina