Apakah Kecanduan Belanja Termasuk Penyakit Kejiwaan? - Sudah berapa banyak daftar belanja yang sudah kalian siapkan untuk diskon akhir tahun ini?
Yap, belanja sesuatu memang menyenangkan bagi sebagian orang. Ada yang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan ada juga yang berbelanja hanya untuk memenuhi hasrat belanja saja. Padahal, mereka tidak terlalu membutuhkan barang yang mereka beli. Kondisi ini disebut compulsive buying disorder.
𝐀𝐩𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐂𝐨𝐦𝐩𝐮𝐥𝐬𝐢𝐯𝐞 𝐁𝐮𝐲𝐢𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐬𝐨𝐫𝐝𝐞𝐫 𝐈𝐭𝐮?
Compulsive buying disorder atau gangguan belanja kompulsif adalah suatu obsesi dan perilaku belanja berlebihan yang sulit untuk dikontrol oleh diri sendiri.
Istilah lain dari kondisi ini adalah oniomania. Mengutip Wikipedia, oniomania berasal dari Bahasa Yunani 'onios' yang artinya dijual, dan 'mania' yang bermakna kegilaan.
Para ahli menyimpulkan, seorang oniomania cenderung membeli barang bukan karena butuh, melainkan hanya ingin dan senang melakukannya. Mereka memiliki keinginan untuk terus membeli barang, hingga hilang kendali terhadap diri sendiri.
𝐋𝐚𝐥𝐮, 𝐀𝐩𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐛𝐞𝐝𝐚𝐚𝐧 𝐎𝐧𝐢𝐨𝐦𝐚𝐧𝐢𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐧𝐣𝐚 𝐁𝐢𝐚𝐬𝐚?
Menurut para peneliti perbedaan belanja biasa dengan oniomania terletak pada nilai guna barang dan lama obsesi shopping-nya. Jika seseorang membeli barang hanya beberapa kali, hal itu tergolong normal. Terlebih lagi jika nilai guna barang itu benar dibutuhkan.
Sedangkan oniomania terjadi saat seseorang hanya memikirkan untuk shopping setiap harinya. Para penderita memiliki obsesi berbelanja selama dua minggu atau lebih dengan tujuan untuk melepas rasa stres. Terkadang, muncul rasa penyesalan yang mereka rasakan setelah membeli barang tersebut.
Penderita oniomania sadar akan kondisi yang mereka alami dan merasa kecewa karena tak bisa mengontrol diri mereka sendiri. Bahkan, banyak dari mereka yang memaksakan kemampuan finansialnya atau berhutang demi memenuhi hasrat belanja mereka, lho!
𝐒𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐁𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐎𝐧𝐢𝐨𝐦𝐚𝐧𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐔𝐬𝐢𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐫𝐤𝐞𝐧𝐚 𝐎𝐧𝐢𝐨𝐦𝐚𝐧𝐢𝐚?
Menurut Top Ten Markets for Recreational Shopping yang dirilis oleh ACNielsen tahun 2013, 2 persen hingga 8 persen dari populasi orang dewasa di Indonesia menderita kondisi ini. Sebanyak 93 persen dari mereka adalah perempuan berusia 20-an tahun.
𝐀𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐎𝐧𝐢𝐨𝐦𝐚𝐧𝐢𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐆𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐣𝐢𝐰𝐚𝐚𝐧?
Secara psikologi kecanduan ini dikategorikan sebagai penyakit kejiwaan, dengan tingkatan mild, moderate hingga severe. WHO memasukkan kategori gangguan kejiwaan ini ke dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10), Chapter V, dalam Block F00-F99.
Data ini didukung oleh pernyataan Astrid Mueller, seorang Ahli psikologi klinis dari Hannover Medical School Jerman yang menyimpulkan, "Orang yang kecanduan belanja, sebenarnya sedang mengalami gangguan kejiwaan,". Demikian poin gagasan Mueller, yang dipublikasikan di laman Independent.
"Sudah waktunya, untuk mengenali gangguan belanja kompulsif sebagai suatu gangguan kesehatan mental, sehingga kami dapat membantu mengembangkan metode perawatan dan diagnosis yang lebih baik," kata Mueller.
𝐆𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐬𝐢𝐡, 𝐂𝐚𝐫𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐫𝐚𝐧𝐠𝐢 𝐎𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐛𝐞𝐥𝐚𝐧𝐣𝐚?
Hingga saat ini, belum ada terapi khusus yang pasti bagi penderita oniomania. Tetapi, para ahli menyarankan untuk melakukan psikoterapi seperti selesctive serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau cognitive behavioral therapy (CBT).
Di sisi lain, penderita bisa mencegah keinginan untuk berbelanja dengan berpikir lebih bijaksana. Dilansir dari terapi dr. Benson, ia memiliki 6 pertanyaan untuk dijawab pasien onimania supaya bisa mengontrol diri mereka saat berbelanja.
Pertanyaan itu jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah :
Mengapa aku ada di sini?
Bagaimana perasaanku sekarang?
Apakah aku memerlukan barang ini?
Bagaimana jika aku menunda membelinya?
Bagaimana aku akan membayarnya?
Di mana aku akan meletakkan barang ini?
Sebelum khilaf untuk berbelanja, kamu bisa coba menanyakan pertanyaan tersebut ke diri kamu sendiri. Terlebih lagi, diskon akhir tahun akan tiba untuk membujuk kamu menghabiskan uang di dompet. Jadi, kontrol diri kamu dan cukup beli barang yang dibutuhkan, ya. See ya next time!
