CEGAH "KIAMAT" DI MASA DEPAN, NASA LUNCURKAN MISI UJI TABRAK ASTEROID

 


CEGAH "KIAMAT" DI MASA DEPAN, NASA LUNCURKAN MISI UJI TABRAK ASTEROID - Walaupun Bumi aman dari ancaman hantaman asteroid untuk 100 tahun kedepan, umat manusia sendiri mulai memikirkan metode untuk melindungi diri dari ancaman tersebut di masa mendatang, salah satunya dengan membelokkan jalur asteroid dan NASA sedang mencoba hal tersebut.

Kemarin, NASA sukses meluncurkan pesawat ruang angkasa DART (Double Asteroid Redirection Test) dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg, California, Rabu (24/11/2021) pukul 13:21 WIB atau 10:21 malam waktu setempat.

Misi ini merupakan bagian dari proyek AIDA (Asteroid Impact and Deflection Assessment), proyek kolaborasi NASA dan ESA (European Space Agency) untuk mempelajari pembelokan orbit asteroid dengan cara menabrakkan pesawat ruang angkasa ke asteroid lalu meneliti dampaknya. NASA dengan pesawat ruang angkasanya DART, dan ESA dengan pesawat ruang angkasanya HERA.

Setelah berpisah dari roket pembawanya, DART memulai perjalanannya selama 11 bulan menuju sebuah asteroid bernama Dimorphos yang akan ditabraknya pada Oktober tahun depan.

Dimorphos merupakan asteroid berukuran 160 meter yang juga menjadi satelit alami yang mengelilingi asteroid yang jauh lebih besar yang disebut Didymos (berukuran 760 meter). Kedunya mengorbit Matahari bersama-sama dan diklasifikasikan sebagai asteroid yang berpotensi berbahaya dan objek dekat-Bumi. Pasangan ini akan melintas dekat Bumi pada tahun 2123 mendatang dengan jarak terdekatnya nanti sekitar 5,9 juta km dari Bumi atau 15 kali jarak Bumi - Bulan. Walaupun dikatakan dekat, namun dengan jarak sejauh itu, asteroid tersebut tidak akan membahayakan Bumi kok.

Nantinya DART akan menabrak asteroid Dimorphos dengan kecepatan 6,6 km/s (sekitar 23000 km/jam) yang akan sedikit mengubah orbit atau lintasan dari Dimorphos dalam mengelilingi Didymos. Tidak perlu khawatir karena efek dari tabrakan ini tidak berbahaya sama sekali bagi Bumi.

Dimorphos akan mengorbit Didymos lebih dekat setelah ditabrak dan diperkirakan periode orbit Dimorphos dalam mengelilingi Didymos akan berkurang sekitar 10 menit. Efek lanjutan dari tabrakan ini nantinya bisa diteliti lebih lanjut dengan teleskop-teleskop di Bumi.

Kemudian pada tahun 2023 mendatang, giliran ESA yang akan meluncurkan pesawat ruang angkasa HERA menuju Dimorphos untuk mempelajari secara dekat kawah dan dinamika hasil tabrakan DART.

Data-data ilmiah yang dihasilkan dari dua misi ini akan digunakan untuk merancang misi-misi pembelokan asteroid berikutnya hingga akhirnya metode ini bisa benar-benar bisa digunakan untuk melindungi planet kita di masa mendatang.

FAKTA-FAKTA DART

Misi DART menghabiskan biaya US$330 juta atau sekitar Rp4,7 triliun. DART berbentuk kotak dengan panjang 1,9 meter, tinggi 2,6 meter, lebar 1,8 meter dan berbobot 670 kg. DART dilengkapi dengan sensor matahari, pelacak bintang, dan kamera yang semuanya akan digunakan untuk mengarahkan DART menuju Dimorphos secara otonom. Untuk sumber kelistrikan, DART memiliki dua panel surya gulung (Roll-Out Solar Arrays) sepanjang 8,5 meter yang juga akan menyediakan tenaga untuk sistem pendorong ionnya.

DART juga membawa muatan tambahan berupa cubesat (satelit kecil berbentuk kotak). Badan Antariksa Italia menyumbangkan LICIACube (Light Italian CubeSat for Imaging of Asteroids) untuk dibawa bersama DART dan akan dilepaskan 10 hari sebelum tabrakan untuk mendokumentasikan tabrakan tersebut serta dampaknya.


Referensi:

https;//en,wikipedia,org/wiki/AIDA_(mission)

https;//www,nasaspaceflight,com/2021/11/falcon-9-dart-launch/

https;//en,wikipedia,org/wiki/Dimorphos

https;//dart,jhuapl,edu/Mission/Impactor-Spacecraft.php