Salam Dari Binjai! Yuk Mari Kita Mengenal Sejarah & Budaya Dari Kota Binjai!

 


Salam Dari Binjai! Yuk Mari Kita Mengenal Sejarah & Budaya Dari Kota Binjai! - MENGENAL KOTA BINJAI

BINJAI, atau warga setempat lebih sering menyebutnya "Binje" atau "Binjei", adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Kota ini terletak 20 km dari arah barat kota Medan, dan hanya dipisahkan oleh Kec. Sunggal, Kab. Deli Serdang. Binjai termasuk dalam wilayah metropolitan kota Medan yang sering disingkat "MEBIDANG" (Medan - Binjai - Deli Serdang).

Kota Binjai yang terkenal dengan rambutannya ini adalah kota yang sangat strategis karena terletak di ruas utama lintas timur Sumatera, dan menjadi kota perlintasan di jalur antara Medan dan Provinsi Aceh. 


PROFIL SEKILAS

Nama Kota: BINJAI

Provinsi: Sumatera Utara

Luas wilayah: 90,23 km2

Jumlah penduduk: 279.302 jiwa (2017)

Kepadatan penduduk: 3.095 jiwa / km2

Kode pos: 207xx

Kode telepon: 061 (sama dengan Medan)

Walikota (petahana): Amir Hamzah

Wakil Walikota (petahana): Rizky Yunanda Sitepu


ASAL-USUL & SEJARAH

Ada 2 teori tentang asal-usul nama "Binjai". 

Pertama adalah nama ini berasal dari nama buah "binjai" dalam bahasa Melayu, yang mirip dengan mangga atau buah kemang, dengan nama ilmiah "mangifera caesia". Pohon buah ini tumbuh di pinggir Sungai Bingai yang bermuara ke Sungai Wampu. Di sekitar pohon-pohon buah ini adalah awal dari pemukiman warga, yang menjadi sebuah kampung yang dibuka dengan upacara adat yang digelar di bawah pohon binjai tersebut. Kampung ini berkembang menjadi pelabuhan persinggahan kapal tongkang yang datang dari arah utara seperti Stabat, Tanjung Pura dan bahkan Selat Malaka yang berhadapan dengan Semenanjung Melayu (sekarang Malaysia). 

Teori yang kedua berasal dari cerita masyarakat suku Karo, suku asli wilayah ini sebelum kemunculan suku Melayu (yang merupakan hasil dari percampuran antar suku yang ada di pesisir Sumatera). Menurut masyarakat Karo, nama "Binjai" berasal dari bahasa Karo yaitu "ben ije" yang artinya "bermalam di sini". Pada masa itu, daerah ini menjadi persinggahan para "perlanja sira" (pedagang garam) yang turun dari gunung ke pesisir untuk membeli garam dan menukarnya dengan hasil alam dari gunung. Tempat ini jadi tempat singgah atau bermalam bagi mereka setelah mendaki gunung lewati lembah, dengan berjalan kaki.

Pada abad ke-19, Binjai telah berkembang menjadi pelabuhan yang disaksikan oleh Inggris yang berkedudukan di Penang (sekarang Malaysia) dan kemudian oleh koloni Belanda yang mendirikan perkebunan tembakau di pesisir Sumatera Utara. 

Belanda berusaha menguasai wilayah Deli untuk mendirikan perkebunan tembakau saat itu dengan politik pecah belah, yaitu dengan pengangkatan para datuk atau pembesar setempat, tetapi tidak semua datuk bersedia, salah satunya Datuk Sunggal yang menentang rencana penyerahan tanah dari Sultan Deli kepada kompeni. Inilah awal dari amarah Belanda terhadap rakyat Binjai yang dipimpin oleh para datuk, sehingga terjadi pertempuran pada tanggal 17 Mei 1872 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Binjai. Pertempuran ini berakhir pada bulan Oktober ketika para datuk seperti Datuk Kocik dan Datuk Jalil ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Cilacap, Jawa Tengah.

Setelah Indonesia merdeka dan Binjai dipimpin oleh RM Ibnu sebagai kepala pemerintahan, keadaan Binjai masih belum stabil akibat agresi militer hingga tahun 1950, dan pada saat itu melalui perombakan administratif nasional, Binjai dimasukkan ke dalam Kabupaten Langkat dan ditetapkan sebagai ibukota kabupaten tersebut. 

Pada tahun 1956, Binjai menjadi kota otonom yang mandiri dengan walikota pertama yang bernama SS Paruhuman. Akan tetapi Binjai masih menjadi ibukota Kabupaten Langkat sampai tahun 1982 sebelum pindah ke Stabat hingga saat ini.


PEMBAGIAN ADMINISTRATIF 

Dengan luas wilayah 59,19 km2 dan jumlah penduduk 274.967 jiwa (tahun 2017), Binjai terdiri dari 5 kecamatan dan 37 kelurahan, yaitu:

1. Binjai Barat (6 kelurahan)

2. Binjai Kota (7 kelurahan)

3. Binjai Selatan (8 kelurahan)

4. Binjai Timur (7 kelurahan)

5. Binjai Utara (9 kelurahan)


PENDUDUK

Penduduk Binjai terdiri dari berbagai suku bangsa, dengan Suku Melayu dan Karo sebagai penduduk asli, ditambah lagi dengan Suku Jawa alias Pujakesuma yaitu keturunan Jawa yang didatangkan oleh Belanda sebagai pekerja paksa, dan juga Suku Batak Toba, Suku Minang, Aceh, Tionghoa, India Tamil dan perantau dari daerah lainnya.

Mayoritas penduduk Binjai beragama Islam (83%), selain itu ada juga penduduk yang beragama Kristen (10%), Buddha (6%), Hindu (0,3%) dan agama-agama lainnya. 


EKONOMI

Kegiatan ekonomi dan sumber PAD terbesar di Kota Binjai adalah perdagangan dan jasa. Pusat kota Binjai terdiri dari banyak ruko, dan pasar tradisional seperti Pusat Pasar Tavip, dan juga pusat perbelanjaan modern seperti Binjai Supermall dan Ramayana.

Di luar perdagangan dan jasa, Binjai juga memiliki hasil pertanian, terutama rambutan yang menjadi ikon khas Binjai. Terdapat juga kawasan eksplorasi minyak dan gas di Tandam Hilir, Binjai Utara.


TRANSPORTASI

Kota Binjai sangat strategis, terletak di perlintasan antara Medan dan Aceh, dan juga antara Medan dan kawasan wisata Bukit Lawang atau Taman Nasional Gunung Leuser. Dengan letaknya yang strategis, kota Medan sangat mudah dijangkau.

Dari Kota Medan terdapat bus kota Trans Mebidang dan juga angkutan kota minibus. Kota Binjai juga terhubung dengan kereta api Sri Lelawangsa dari Stasiun Medan dengan pemberangkatan 11x sehari. 

Bandara terdekat dari Kota Binjai adalah Bandara Kuala Namu, yang terhubung langsung dengan bus ALS Bandara Kuala Namu - Binjai dan DAMRI Bandara Kuala Namu - Stabat.

Terdapat juga bus antar kota menuju Provinsi Aceh, Riau, dan kota-kota lain di Sumatera Utara seperti Padang Sidempuan, Sibolga, dan kawasan Padang Lawas.


SUMBER:

Wikipedia:

id,wikipedia,org/wiki/Kota_Binjai

Situs Resmi Pemerintah Kota Binjai:

binjaikota,go,id/home

Binjai Dalam Angka, Badan Pusat Statistik:

binjaikota.bps.go,id/publication/2021/02/26/a2da3e5f93a10df3ca852c8b/kota-binjai-dalam-angka-2021.html